Sabtu, 06 April 2013

Hal-hal yang Mempengaruhi Keakuratan Alat Uji Kehamilan Bagian ke 2

Artikel ini terwujud dari sebagian laba yang diperoleh AdoraBabyShop.Com. Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para pelanggan setia AdoraBabyShop.Com, sehingga kami bisa memberikan kembali kepada para Bunda/Ayah diseluruh indonesia dalam bentuk ilmu tentang dunia kehamilan dan parenting yang bermanfaat.


4. Waktu yang salah


Kehamilan seringkali dideteksi dengan adanya hormone hCG. Hormon ini memiliki kadar yang sangat rendah di masa-masa awal kehamilan. Oleh karena itu jika melakukan tes terlalu dini maka kemungkinan tes akan gagal untuk mendeteksi hCG dan memberikan hasil yang salah. Dengan sendirinya keakuratan alat uji kehamilan yang dilakukan pada periode yang terlalu awal juga akan menjadi sangat diragukan. Hormon hCG kadang juga dihasilkan oleh jaringan lain selain plasenta sehingga wanita yang tidak sedang hamilpun bisa saja mendapatkan hasil yang positif.  Untuk bisa mendapatkan keakuratan alat uji kehamilan, kita bisa menunggu setidaknya 8 hari dan melakukan tes setiap 2 hari untuk mendapatkan hasil yang stabil.


5. Pengujian yang tidak tepat


Pengujian biasanya memiliki batas waktu 10 menit. Setelah melewati 10 menit maka stik alat uji harus dibuang. Kita tidak disarankan untuk melihat hasil pengujian setelah 10 menit karena ada banyak kasus dimana warna stik berubah setelah 10 menit berlalu. Secara otomatis maka waktu yang lebih dari 10 menit akan mempengaruhi tingkat keakuratan alat uji kehamilan.


6. Kurangnya pemahaman akan gradasi warna dalam pengujian bisa mempengaruhi keakuratan alat uji kehamilan.


Setiap alat uji memiliki dua garis. Satu garis akan berubah warna menjadi pink setelah terekspose oleh kelembapan sedangkan garis lainnya akan berubah menjadi pink hanya jika terekspose oleh hCG. Saat terekspose oleh hCG maka garis pertama akan berubah menjadi warna pink gelap sementara garis kedua akan mengalami hal serupa. Seringkali kita meragukan keakuratan alat uji kehamilan karena warna dua garis ini tidak sama. Jika warna pada garis kedua tidak sama dengan garis yang pertama maka artinya hasil tes kita adalah negatif.


7. Kehamilan kimia


Pada periode awal kehamilan sebelum detak jantung bayi terbentuk maka kemungkinan terjadinya keguguran mencapai 15 persen. Saat detak jantung terbentuk maka prosentasenya akan menurun menjadi 5 persen. Keguguran dini ini adalah yang disebut sebagai kehamilan kimia. Jadi inilah alasan yang seringkali membuat kita bertanya-tanya keakuratan alat uji kehamilan karena setelah mendapatkan hasil positif namun kemudian mengalami menstruasi atau pendarahan.


Hal hal yang Mempengaruhi Keakuratan Alat Uji Kehamilan Bagian ke 2


8. Pengaruh dari pengobatan


Jika kita sedang dalam pengobatan yang mengandung hormo hCG maka hal ini akan mempengaruhi keakuratan alat uji kehamilan. Hal ini disebabkan hormon hCG yang digunakan dalam pengobatan akan mempengaruhi hasil tes. Bagi wanita yang sedang dalam pengobatan sehubungan dengan masalah kesuburan sebaiknya mengkomunikasikan hal ini dengan dokter sebelum melakukan tes kehamilan sendiri.


9. Menopause


Setelah menopause, wanita memiliki sejumlah kandungan hCG dalam air kencing. Kandungan hCG yang sangat sedikit ini biasnya sangat sulit untuk bisa dideteksi dalam tes sehingga akan sangat mempengaruhi keakuratan alat uji kehamilan. Stik penguji juga sangat sensitif jadi bisa saja mendeteksi hasil yang salah.


10.  Alat uji sudah mencapai masa kadaluwarsa


Keakuratan alat uji kehamilan sangatlah berkaitan dengan kondisi alat uji. Jangan lupa untuk memeriksa tanggal kadaluwarsa pada kemasan. Kita tidak akan mendapatkan hasil yang benar dari kemasan yang sudah kadaluwarsa.


Jika kita merasa tes kehamilan yang kita lakukan pertama kali memberikan hasil yang salah maka akan lebih baik jika kita melakukan tes berikutnya dengan alat uji setelah dua atau beberapa hari kemudian. Jangan hanya bergantung sepenuhnya pada hasil semata. Kita bisa mengunjungi dokter untuk melakukan tes darah agar bisa menambah keakuratan alat uji kehamilan.


By Desi Purbi.


Follow us at:
http://www.facebook.com/Adorababyshop
http://www.twitter.com/Adorababyshop




Hal-hal yang Mempengaruhi Keakuratan Alat Uji Kehamilan Bagian ke 2

Hal-hal yang Mempengaruhi Keakuratan Alat Uji Kehamilan Bagian ke 1

Artikel ini terwujud dari sebagian laba yang diperoleh AdoraBabyShop.Com. Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para pelanggan setia AdoraBabyShop.Com, sehingga kami bisa memberikan kembali kepada para Bunda/Ayah diseluruh indonesia dalam bentuk ilmu tentang dunia kehamilan dan parenting yang bermanfaat.


Keakuratan alat uji kehamilan menjadi pilihan banyak orang karena penggunaannya yang mudah dan juga harganya yang relatif murah. Sebagian besar dari alat ini menggunakan urin untuk mendeteksi hormon yang mengindikasikan terjadinya kehamilan. Hal lain yang mendasari banyaknya penggunaan alat ini karena mudah ditemukan di toko obat ataupun toko-toko. Biasanya kita akan disarankan untuk menunggu hingga pagi hari untuk menggunakannya. Hal ini didasari karena urin di pagi hari memiliki konsentrasi hCG yang paling tinggi. Hormon ini adalah jenis hormon yang muncul selama kehamilan dan bisa dideteksi melalui tes darah atau urin. Jika kita tidak menggunakan alat ini di pagi hari maka kita bisa menunggu setidaknya 3 atau 4 jam dari terakhir kali kita buang air kecil untuk menjaga keakuratan alat uji kehamilan.


Gunakan alat ini sedini mungkin sejak hari pertama periode menstruasi kita terlambat untuk mendapatkan keakuratan alat uji kehamilan tertinggi. Untuk penggunaannya secara umum, kita bisa melakukan langkah-langkah berikut:


  1. Keluarkan alat uji dari dalam kemasan. Saat kita buang air kecil, kita bisa memegang ujung stik dan memasukkan ujung stik satunya yang menjadi alat uji kedalam cairan kencing setidaknya selama 5 detik. Jika kita inginkan keakuratan alat uji kehamilan menjadi lebih baik maka kita bisa menampung cairan kencing kedalam wadah bersih dan kemudian mencelupkannya selama setidaknya selama 10 detik.

  2. Setelah mencelupkan stik ke dalam cairan kencing maka kita bisa meletakkan stik pada permukaan yang datar dengan bagian yang menunjukkan hasil berada di bagian atas. Tunggulah selama 3 menit untuk mendapatkan keakuratan alat uji kehamilan. Jika kita melihat satu garis pink atau merah maka itu berarti kita tidak hamil sedangkan dua garis berarti kita sedang hamil. Jangan membaca hasil setelah 10 menit karena keakuratan alat uji kehamilan pada menit yang melebihi 3 menit akan diragukan keabsahannya.

Ada kalanya alat ini menjadi tidak akurat. Berikut ini adalah beberapa hal yang menyebabkan alat ini menjadi tidak akurat:


  1. Adanya kontaminasi

Kemungkinan adanya kontaminasi pada urin bisa mempengaruhi keakuratan alat uji kehamilan.


Urin bisa terkontaminasi terutama jika tercampur dengan sabun, deterjen, krim dan hal lainnya. Bisa saja wadah yang kita gunakan dalam tes kehamilan untuk menampung urin kurang bersih atau masih ada sisa sabun. Untuk menghindarinya pengaruh kemungkinan adanya material lain yang akan tercampur pada urin dan mempengaruhi keakuratan alat uji kehamilan maka kita bisa langsung meletakkan stik ala uji pada air kencing saat kita buang air kecil.


Hal hal yang Mempengaruhi Keakuratan Alat Uji Kehamilan Bagian ke 1


  1. Kandungan dalam hCG

Hormon ini adalah hormon yang diproduksi oleh urin wanita melalui plasenta setelah proses fertilisasi terjadi. Hormon hCG ada dalam kandungan yang sangat kecil pada urin bahkan seringkali tidak terdeteksi selama masa awal kehamilan. Untuk mendapatkan hasil dengan keakuratan alat uji kehamilan yang tinggi maka kita disarankan untuk melakukan tes setidaknya 8 hari sesudah masa menstruasi mengalami keterlambatan. Hormon hCG juga bisa diproduksi saat wanita menderita tumor perut, kanker kandung kemih, kelainan kandungan dan sebagainya. Saat ini wanita biasanya juga akan merasa pusing dan lelah seperti yang biasa terjadi pada wanita yang sedang hamil. Karena alat tes ini sangat sensitif maka seringkali keakuratan alat uji kehamilan ini tidak bisa dipastikan karena kandungan hCG sekecil apapun akan dideteksi dan bisa saja dianggap sebagai tanda kehamilan dengan memunculkan tanda dua garis.


  1. Kita melakukan pengujian pada cairan yang salah

Ada kalanya kita melakukan pengujian pada jenis cairan selain urin seperti darah, air susu, air liur, serum dan sebagainya. Cairan pengganti ini memiliki kandungan hormon yang berbeda. Ini akan secara otomatis mempengaruhi keakuratan alat uji kehamilan karena penggunaan cairan yang salah biasanya akan mengahasilkan hasil yang juga salah.


By Desi Purbi.


Follow us at:
http://www.facebook.com/Adorababyshop
http://www.twitter.com/Adorababyshop



Hal-hal yang Mempengaruhi Keakuratan Alat Uji Kehamilan Bagian ke 1

Mendalami Seputar Keakuratan Tes dengan Alat Uji Kehamilan

Keakuratan alat uji kehamilan seringkali disebut-sebut memiliki nilai yang hampir sempurna. Pada kenyataannya masih ada beragam kontroversi mengenai keakuratannya. Alat ini sebenarnya bekerja dengan cara mendeteksi kadar dari hormon hCG. Jumlah dari hormon ini dalam tubuh meningkat dengan cepat begitu proses fertilisasi dari sel telur oleh sel sperma. Hormon ini segera ditemukan dalam urin sekitar 3 sampai 5 hari sesudah proses fertilisasi. Namun hormon ini biasanya tidak bisa dideteksi sebelum 10 sampai 14 hari sehingga banyak calon ibu yang tidak mengetahui bahwa dirinya hamil. Begitu periode menstruasi mengalami keterlambatan maka barulah si calon ibu mengambil inisiatif dengan menggunakan keakuratan alat uji kehamilan.


Banyak perusahaan yang mengklaim bahwa keakuratan alat uji kehamilan yang mereka miliki mencapai 95 persen. Namun kita harus tetap waspada karena klaim ini berdasarkan pada penelitian terkontrol dalam sebuah laboratorium. Klaim ini tidak didasarkan pada banyak data-data ilmiah pada penelitian yang dilakukan di luar laboratorium dan bahkan diuji cobakan pada konsumen. Bahkan ada banyak penelitian yang dilakukan di Amerika justru menemukan bahwa 12,5 persen dari hasil tes kehamilan justru tidak akurat. Ketidak akuratan ini sebagian besar disebabkan karena petunjuk pemakaiannya tidak bisa dimengerti dengan jelas oleh konsumen. Namun demikian hasil positif yang didapatkan sebagai bukti keakuratan alat uji kehamilan ini lebih tinggi daripada hasil yang negatif.


Keakuratan alat uji kehamilan ini pastinya sangat dipengaruhi oleh cara penggunaan konsumen. Oleh karena itulah sangat penting bagi konsumen untuk membaca petunjuk penggunaan dengan benar dan seksama. Hal ini dikarenakan setiap alat tes memiliki petunjuk penggunaan yang berbeda-beda. Jika ada poin yang tercantum pada petunjuk penggunaan ternyata tidak kita mengerti maka akan lebih bijak untuk menghubungi bagian pelayanan konsumen untuk mendapatkan penjelasan yang tepat. Secara umum, kita harus memastikan bahwa kita menyimpan alat ini dalam suhu ruangan,tidak kadaluwarsa, masih dalam keadaan tersegel dan bukannya terbuka. Keakuratan alat uji kehamilan ini juga sangat bergantung pada kepatuhan kita mengikuti petunjuk yang ada. Tempatkan alat ini pada cairan urin setidaknya selama 5 detik, tempatkan di permukaan datar hingga waktu yang ditentukan untuk mendapatkan hasil yang menunjukkan keakuratan alat uji kehamilan.


Mendalami Seputar Keakuratan Tes dengan Alat Uji Kehamilan


Keakuratan alat uji kehamilan ini juga seringkali dipertanyakan terutama jika ada kondisi dimana hasil tes menunjukkan negatif padahal si penguji sedang hamil atau sebaliknya. Oleh karena itu jika kita merasa ragu-ragu maka ada baiknya untuk melakukan tes ulang atau menghubungi dokter. Dokter biasanya akan melakukan tes darah yang lebih sensitif untuk menentukan apakah kita memang hamil atau tidak. Berikut ini adalah beberapa hal yang mempengaruhi keakuratan alat uji kehamilan:


- tidak mengikuti petunjuk dengan benar


- melakukan tes terlalu awal


- penggunaan beberapa jenis obat-obatan tertentu


Keakuratan alat uji kehamilan juga seringkali dikaitkan dengan waktu saat kita melakukan pengujian. Oleh karena itulah maka akan lebih baik meskipun tidak harus untuk melakukan pengujian di pagi hari dimana urin mengandung konsentrasi hCG terbesar saat momen ini. Yang perlu dihindari hanyalah tidak mengkonsumsi terlalu banyak cairan karena bisa mempengaruhi kandungan hCG dalam urin. Alat uji ini sendiri memiliki tingkatan sensitifitas yang berbeda-beda. Tingkatan sensitifitasnya ini berhubungan dengan seberapa cepat alat ini bisa mendeteksi hCG dan berapa kadar hCG yang harus terlihat. Jikapun kita meragukan keakuratan alat uji kehamilan karena hasil yang kita dapatkan negatif maka kita bisa menunggu selama seminggu untuk melakukan tes lanjutan.


Beberapa pengobatan juga mempengaruhi keakuratan alat uji kehamilan. Pengobatan yang bisa mempengaruhi antara lain:


-   penggunaan promethazine yang biasanya digunakan untuk mengobati alergi


-   pengobatan untuk penyakit parkinson


-   obat tidur


-   obat-obat diuretik yang biasanya dipakai untuk meningkatkan produksi urin pada pasien gagal ginjal sehingga bisa mempengaruhi keakuratan alat uji kehamilan


-   obat yang mengandung anticonvulsants yang dipakai untuk penderita epilepsi


-   obat yang digunakan untuk mengatasi kasus kemandulan


Jika tes pertama kita menunjukkan dua garis sebagai hasil yang positif namun kemudian menunjukkan hasil negatif pada tes kedua atau kita menstruasi maka ada satu kemungkinan. Kemungkinan tersebut adalah terjadinya keguguran dan bukannya bukti bahwa keakuratan alat uji kehamilan memang perlu dipertanyakan.



Mendalami Seputar Keakuratan Tes dengan Alat Uji Kehamilan

Rabu, 03 April 2013

Artikel ini terwujud dari sebagian laba yang diperoleh AdoraBabyShop.Com. Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para pelanggan setia AdoraBabyShop.Com, sehingga kami bisa memberikan kembali kepada para Bunda/Ayah diseluruh indonesia dalam bentuk ilmu tentang dunia kehamilan dan parenting yang bermanfaat.


Pelatihan buang air memang tidak berjalan dengan mulus bagi sebagian besar orang. Bahkan ada beberapa orang yang gagal atau berhenti di tengah jalan. Berikut ini adalah beberapa masalah yang biasa diutarakan para orang tua. Tidak hanya menjelaskan mengenai detail masalah, di artikel ini juga akan dijelaskan mengenai saran-saran untuk mengatasinya :


-          Jika si kecil tidak mau menggunakan toilet.


Beralih dari popok ke penggunaan toilet sungguh bukanlah hal yang mudah bagi si kecil. Oleh karena itulah anak-anak terkadang menolak untuk menggunakan toilet karena merasa takut. Setidaknya ada beberapa hal dalam benak anak yang harus kita sadari untuk bisa mengerti mengapa hal ini begitu sulit bagi si kecil. Pelatihan buang air menjadi rumit ketika si kecil merasa bahwa toilet tidak lebih dari hal baru yang besar, keras, dan dingin. Tidak hanya itu, toilet juga menimbulkan suara berisik dan membuat hal-hal yang ada di dalamnya menjadi hilang. Untuk mengatasinya kita bisa menggunakan kursi toilet khusus anak. Kita bahkan bisa menuliskan nama si kecil dan membiarkannya menghiasnya dengan tempelan. Biarkan dia duduk-duduk di atasnya saat pelatihan buang air untuk menghilangkan rasa takutnya.


Tip lain agar bisa membuat si kecil merasa tenang saat pelatihan buang air adalah dengan menggunakan sarana melalui contoh. Kita bisa mengambil popok kotornya dan membuang kotorannya ke dalam toilet dan mengguyurnya dengan air. Biarkan si kecil melihat kotoran ini menghilang sambil menjelaskan bahwa memang hal inilah yang seharusnya terjadi. Terkadang ada kalanya si kecil begitu menolak saat kita berhentikan untuk memakai popok. Jangan pernah memaksakan kehendak kita pada si kecil karena justru akan membuat proses pelatihan buang air ini menjadi tidak efektif. Jika si kecil masih menunjukkan sikap ketidak tertarikan maka ada baiknya jika kita membiarkannya saja untuk sementara waktu sambil menunggu adanya tanda-tanda kesiapan si kecil secara fisik dan juga mental.


Jika balita kita menunjukkan  tanda kesiapan namun belum juga mengindikasikan adanya ketertarikan maka mungkin ada hal-hal yang masih mencegahnya untuk memfokuskan diri pada pelatihan buang air bayi saat ini. Hal-hal yang mengganggu biasanya berupa adanya perubahan besar seperti memulai sekolah baru, ada anggota baru di rumah dan berbagai perubahan baru lainnya bisa mengganggu konsentrasi si kecil. Terkadang si kecil menolak untuk menggunakan toilet dikarenakan hal sama seperti saat dia menolak untuk mandi dan juga pergi tidur. Anak menemukan bahwa berkata tidak adalah salah satu cara untuk menunjukkan kekuatannya. Hal pertama yang harus dilakukan untuk menghadapinya adalah dengan mundur sementara dan membiarkannya merasa bahwa dia memiliki kuasa atas pelatihan buang air ini.


-          Jika si kecil menolak untuk diingatkan kembali.


Meskipun rasanya akan sangat sulit bagi kita untuk tidak ikut campur saat kita merasa bahwa anak mungkin saja akan buang air sembarangan namun kita tidak seharusnya terlalu banyak mengingatkan. Terlalu banyak pertanyaan seperti “tidakkah kamu ingin pergi ke toilet?’ dan sejenisnya akan membuat anak merasa terlalu tertekan dan terkekang dalam pelatihan buang air. Untuk mengatasi hal ini kita bisa meletakkan toilet khusus bayi di ruangan manapun dan membiarkannya berlarian tanpa celana sehingga dia bisa menggunakannya kapanpun tanpa perlu melibatkan kita. Kemungkinan anak akan buang air sembarangan mungkin akan terjadi namun setidaknya si kecil akan kembali dengan sendirinya begitu merasa ingin. Setidaknya metode ini lebih efektif dibanding dengan memaksakan kehendak kita saat pelatihan buang air berlangsung.


Masalah Umum Saat Pelatihan Buang Air Bagian ke 2


Pada kenyataannya  yang terpenting bukan sekedar apa yang dilakukan anak melainkan juga cara kita menyikapinya. Saat melatih buang air, kita harus tetap tenang saat mengompol atau kelepasan buang air. Memang tidaklah mudah untuk bisa tetap tenang saat harus menghadapi kekacauan namun reaksi yang berlebihan juga hanya akan membuat anak ketakutan. Pada akhirnya ini justru akan menghambat atau bahkan mengagalkan proses pelatihan buang air.  Jika hal ini seperti anak yang buang air sembarangan terjadi maka kita perlu melakukan hal apapaun yang bisa membuat kita tenang. Jangan pernah menghukum si kecil karena hanya akan menghasilkan penolakan dalam jangka panjang melainkan berikan penghargaan. Rayakanlah ketika dia bisa pergi ke toilet sendiri untuk pertama kalinya atau bisa tidak mengompol seharian. Namun jangan juga melakukannya terus menerus karena akan membuat si kecil merasa kurang waspada dan tidak lagi semangat dalam pelatihan buang air.


-          Jika si kecil mengalami sembelit


Alasan lainnya mengapa si kecil menolak menggunakan toilet saat pelatihan buang air mungkin saja dikarenakan alasan sembelit. Anak yang menderita sembelit biasanya akan merasakan sakit saat buang air besar. Rasa sakit ini masih ditambah dengan rasa deg-degan saat harus menggunakan toilet untuk pertama kalinya. Pada akhirnya si kecil akan menahan rasa ingin buang airnya yang justru akan memperparah rasa sembelitnya. Saat si kecil pada akhirnya bisa buang air maka justru akan melipat gandakan rasa sakitnya sehingga akan semakin ketakutan saat menggunakan toilet. Untuk membantu anak, kita bisa memberikannya makanan berserat tinggi seperti brokoli, sereal dan roti gandum utuh. Kita hanya perlu menyediakan gandum utuh setiap hari untuk memastikan si kecil bisa mendapatkan seluruh serat yang dia butuhkan selama proses pelatihan buang air.


Hal lain yang perlu diingat selain memberikan makanan berserat tinggi adalah memberikan cairan yang cukup. Jangan lupa untuk memberikan air, jus buah dan juga latihan fisik yang yang rutin. Hindari memberikan terlalu banyak produk olahan susu karena ini hanya akan menambah parah sembelit anak. Pelatihan buang air juga memerlukan pengetahuan kita yang cukup mengenai apa yang dilakukan anak di sekolah. Mungkin di sekolahnya si kecil diajarkan untuk ke kamar mandi bersama sementara si kecil merasa nyaman dengan adanya privasi atau perbedaan model dan tipe toilet yang ada di rumah dengan toilet yang ada di sekolah. Jika si kecil ingin kembali memakai popok maka kita sebaiknya membiarkannya selama beberapa minggu dan memulai pelatihan kembali. Selain itu kita juga bisa menggunakan celana latihan dalam pelatihan buang air.


By Desi Purbi.


Follow us at:
http://www.facebook.com/Adorababyshop
http://www.twitter.com/Adorababyshop



Masalah Umum Saat Pelatihan Buang Air Bagian ke 1

Artikel ini terwujud dari sebagian laba yang diperoleh AdoraBabyShop.Com. Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para pelanggan setia AdoraBabyShop.Com, sehingga kami bisa memberikan kembali kepada para Bunda/Ayah diseluruh indonesia dalam bentuk ilmu tentang dunia kehamilan dan parenting yang bermanfaat.


Proses transisi dan pembelajaran lewat pelatihan buang air seringkali tidak bisa berjalan mulus. Hal ini lebih banyak terjadi dikarenakan anak yang terbiasa memakai popok akan merasa canggung atau tidak nyaman untuk berpindah memakai toilet. Tentunya ada berbagai macam masalah lainnya yang juga seringkali menghambat proses pelatihan ini. Masalah-masalah itu antara lain:


  1. Anak tidak mengenali pentingnya untuk buang air kecil meskipun dia mengetahui pentingnya buang air besar.

Hal ini seringkali terjadi pada saat pelatihan buang air karena beberapa anak tidak mendapatkan kemampuan mengontrol buang air kecilnya meskipun saat dia sudah bisa mengontrol buang air besarnya. Tetaplah untuk meneruskan latihan dengan pemikiran ini dalam benak kita.


  1. Anak mencoba untuk bermain-main dengan tinja.

Hal sederhana ini seringkali membuat para orang tua menjadi frustasi saat melakukan pelatihan buang air. Hal ini terkadang dilakukan oleh sebagian anak dikarenakan besarnya rasa keingintahuannya. Untuk mengatasinya, kita bisa dengan mudah mengatakan dan menjelaskan bahwa tinja bukanlah sesuatu yang diperuntukkan sebagai mainan.


  1. Anak lelaki kita berkeras untuk buang air kecil sambil duduk

Sebagian besar anak lelaki ingin duduk sembari belajar cara buang air di toilet saat pelatihan buang air. Hal inilah yang kemudian membuat para orang tua merasa kesulitan untuk bisa menjelaskan bagaimana posisi yang seharusnya tepat saat buag air bagi anak laki-laki. Untuk menyelesaikan masalah ini, kita bisa membiarkan saja dulu mereka untuk buang air dengan cara duduk. Baru setelah jagoan kecil kita sudah menguasai pengontrolan otot pelepasannya maka kita bisa menjelaskan secara perlahan bahwa balita laki-laki buang air kecil dengan cara berdiri.


  1. Si kecil menolak untuk buang air di toilet.

Penolakan adalah salah satu hambatan terbesar yang seringkali dialami oleh orang tua. Hal ini jugalah yang seringkali membuat orang tua menjadi berhenti dengan sendirinya untuk meneruskan pelatihan buang air anak. Pada dasarnya, penolakan bisa diartikan sebagai bukan saat yang tepat untuk memulai pelatihan. Karena itu jika si kecil terlihat ingin buang air besar atau kecil maka ajaklah di ke toilet dan biarkan di duduk selama beberapa saat. Gunakan beberapa saat ini untuk menjelaskan apa yang kita harapkan. Tetaplah terlihat santai dan ceria di depan si kecil. Jika anak masih saja menolak dengan keras maka kita tidak boleh memaksakan kehendak.


  1. Si kecil buang air sembarangan

Ada kalanya meskipun kita sudah mengajari si kecil melalui pelatihan buang air namun tetap saja terjadi ‘kecelakaan’ dimana si kecil kelepasan dan buang air di celana. Jika hal ini terjadi maka cobalah untuk tidak menjadi kecewa dan marah-marah. Hukuman dan juga ungkapan kekecewaan yang berlebihan biasanya hanya akan membuat si kecil merasa sedih dan memperlambat proses kita dalam melatih buang air.Masalah Umum Saat Pelatihan Buang Air Bagian ke 12


  1. Anak terlihat kecewa ketika dia melihat kotorannya dibuang

Beberapa anak memiliki keyakinan bahwa kotoran adalah bagian dari tubuh mereka jadi akan menjadi menakutkan dan berat bagi mereka untuk mengerti. Untuk masalah ini, kita perlu untuk menjelaskan tujuan dari pembuangan ini adalah demi kesehatan jadi kotoran yang menumpuk di dalam tubuh akibat sisa-sisa makanan harus dibuang.


  1. Anak seringkali merasa ketakutan akan terhisap masuk ke dalam toilet

Banyak anak yang merasa takut akan terhisap saat kita membuang kotoran dengan pusaran air sementara mereka masih duduk di atasnya. Agar anak merasa tenang dan memiliki keyakinan kontrol terhadap dirinya maka kita bisa membiarkannya membuang selembar tisu toilet kedalamnya kemudian menyiramnya dengan air. Hal ini akan mengurangi ketakutannya selama pelatihan buang air yang ditimbulkan oleh suara pusaran air dan juga pemandangan bahwa kotorannya menghilang.


  1. Anak seringkali langsung buang air begitu diajak ke toilet.

Hal ini sering sekali terjadi pada masa-masa awal dalam proses pelatihan buang air. Anak akan butuh waktu untuk mempelajari bagaimana cara menenangkan otot yang mengontrol pelepasan. Jika hal ini sering terjadi maka ini adalah pertanda bahwa anak belum siap untuk memulai pelatihannya. Kita bisa memulai dengan cara yang lebih perlahan misalnya dengan memakaikan celana latihan pada si kecil.


  1. Si kecil biasanya akan buang air kecil saat tidur

Seperti sebagian anak, si kecil biasanya akan membutuhkan waktu lebih lama untuk melengkapi pelatihan buang air saat tidur siang dan juga tidur di malam hari. Beranikan si kecil untuk segera menggunakan toilet sebelum pergi tidur dan juga segera begitu ia terbangun. Katakan pada anak jika ia terbangun di tengah malam dan butuh pergi ke toilet maka ia bisa pergi sendiri atau membangunkan kita.


  1. Anak hanya merasa aman untuk pergi ke toilet hanya dengan orang tertentu.

Hal ini adalah sesuatu yang normal dan biasa terjadi. Jika anak hanya mau pergi ke toilet dengan kita maka kita bisa perlahan-lahan menarik diri. Tip menarik diri adalah dengan mengantar si kecil ke kamar mandi namun menunggu di luar pintu untuk melatih kemandiriannya.


  1. Si kecil ingin kembali memakai popoknya.

Masalah ini seringkali terjadi dalam pelatihan buang air. Hal macam apapun yang menyebabkan seorang anak menjadi tertekan biasanya akan membuat si kecil ingin kembali memakai popoknya.  Biasanya keinginan ini timbul begitu si kecil sakit, ada perubahan dari yang biasa tidur di keranjang menjadi ke tempat tidur, pindah ke rumah baru dan sebagainya. Untuk mengatasinya kita hanya perlu untuk memberikan waktu dan membiarkan rasa tertekan anak berlalu dengan sendirinya.


By Desi Purbi.


Follow us at:
http://www.facebook.com/Adorababyshop
http://www.twitter.com/Adorababyshop



Masalah Umum Saat Pelatihan Buang Air Bagian ke 1

Selasa, 02 April 2013

Kenali Tanda-tanda Kesiapan Bayi dalam Pelatihan Buang Air Bagian ke 2

Artikel ini terwujud dari sebagian laba yang diperoleh AdoraBabyShop.Com. Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para pelanggan setia AdoraBabyShop.Com, sehingga kami bisa memberikan kembali kepada para Bunda/Ayah diseluruh indonesia dalam bentuk ilmu tentang dunia kehamilan dan parenting yang bermanfaat.


       4.  Kesiapan motoriknya


Rata-rata anak mulai bisa berjalan ke sekelilingnya pada usia 1 tahun. Jika si kecil sudah bisa menguasai cara berjalan atau berlari maka biasanya mereka akan tertarik untuk menguasai kemampuan tumbuh dewasa dan akan mulai mengembangkan kemampuan motorik halus yang diperlukan dalam proses pelatihan buang air. Salah satu tip dalam proses ini adalah memastikan bahwa anak sudah memiliki kemampuan koordinasi tangan dan jari yang memadai untuk memakai dan juga melepas celananya.


       5. Kewaspadaan sosial dan juga pertumbuhan emosi


Saat melatih buang air mungkin kesiapan dalam bentuk ini adalah yang tersulit untuk ditandai terutama dikarenakan anak akan sampai pada fase ini secara bertahap. Komponen-komponen yang akan bisa membantu menentukan emosi anak dan juga kesiapan sosialnya adalah kemandirian, keinginan untuk diterima dan juga kewaspadaan sosial. Keinginan untuk menguasai tubuh dan lingkungannya sendiri adalah hal yang diperlukan dalam memulai pelatihan buang air. Keinginan ini adalah faktor pemicu yang kuat bagi sebagian besar balita dan juga anak pra sekolah. Biasanya anak akan mengatakan ‘saya bisa melakukannya’ atau ‘saya sudah besar sekarang’ untuk mengindikasikan keinginannya untuk mandiri. Terkadang, keinginannya untuk mengontrol tubuh dan juga lingkungannya sendiri diperlihatkannya dalam cara-cara yang tidak diinginkan seperti sembunyi saat ingin buang air atau buang air di celana. Untuk itulah peranan orang tua diperlukan untuk membantu latihaN buang air dan proses pelatihan buang air begitu anak memperlihatkan tanda-tanda ingin mandiri.


Kenali Tanda tanda Kesiapan Bayi dalam Pelatihan Buang Air Bagian ke 2


Hal lain yang seringkali terjadi lantaran si kecil ingin memegang kontrol sepenuhnya terhadap dirinya adalah dengan menahan buang air sehingga akan berakhir menjadi sembelit. Keinginan si kecil untuk mandiri dan memegang kontrol atas dirinya seringkali juga menimbulkan perdebatan dengan orang tua. Hal ini seringkali diakibatkan karena orang tua meremehkan kekuatan seorang anak untuk mendapatkan persetujuan orang tuanya. Inilah yang harus kita pahami saat memulai pelatihan buang air. Pada dasarnya setiap anak peduli dengan apa yang orang tua pikirkan tentang mereka, keinginan untuk dibanggakan dan sebagainya. Keinginan untuk menyenangkan orang tua dan mendapatkan pengakuan atau pujian adalah salah satu hal yang bisa kita gunakan saat mengajari anak dalam proses pelatihan buang air. Ingatlah untuk selalu membiarkan anak menunjukkan kemandiriannya agar si kecil merasa mendapatkan pengakuan. Hal ini penting agar si kecil tidak menentang kita dalam pelatihan. Jangan lupa pula untuk memberikan pujian setiap kali si kecil berhasil buang air secara mandiri.


Kewaspadaan sosial sendiri bisa diartikan sebagai kemampuan untuk mengamati orang lain dan keinginannya untuk menjadi seperti orang yang diamati ini. Pada usia 18 bulan, anak akan tertarik dengan kebiasaan dari anak lain seumuran mereka atau dengan usia lebih tua. Hal inilah yang kemudian membuat anak kedua dan ketiga akan bisa lebih cepat berhasil dalam pelatihan buang air dibandingkan dengan anak pertama. Pada usia 24 sampai 30 bulan, mereka akan mulai mengerti perbedaan jenis kelamin dan fokus pada peniruan kebiasaan dari saudaranya. Untuk mempermudah proses pelatihan ini maka kita bisa menggunakan berbagai peralatan seperti toilet bayi dan celana latihan. Penggunaan berbagai peralatan ini bisa membantu mempermudah tugas kita untuk mengajari anak karena kebanyakan anak merasa kesulitan dan tidak nyaman dengan toilet dewasa. Pada akhirnya, pelatihan buang air membutuhkan kesiapan anak, kesabaran orang tua dengan didukung berbagai peralatan yang memadai.


By Desi Purbi.


Follow us at:
http://www.facebook.com/Adorababyshop
http://www.twitter.com/Adorababyshop




Kenali Tanda-tanda Kesiapan Bayi dalam Pelatihan Buang Air Bagian ke 2

Kenali Tanda-tanda Kesiapan Bayi dalam Pelatihan Buang Air Bagian ke 1

Artikel ini terwujud dari sebagian laba yang diperoleh AdoraBabyShop.Com. Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para pelanggan setia AdoraBabyShop.Com, sehingga kami bisa memberikan kembali kepada para Bunda/Ayah diseluruh indonesia dalam bentuk ilmu tentang dunia kehamilan dan parenting yang bermanfaat.


Pelatihan buang air menjadi salah satu hal penting yang menuntut peran penting kita dalam perkembangan bayi. Tidak ada usia tertentu dimana si kecil akan siap untuk mulai mempelajari bagaimana menggunakan toilet. Setiap bayi perlu untuk mengembangkan kemampuan atau keahlian fisik dan juga kognitifnya dalam rentang waktu usia 18 sampai 24 bulan. Banyak orang tua yang tidak memulai untuk melatih buang air sampai si kecil berusia 2,5 sampai 3 tahun saat jadwal buang airnya lebih bisa diketahui ritmenya. Ada kalanya si kecil bahkan tidak tertarik dengan pelatihan buang air sampai usia mereka mendekati 3 bahkan 4. Sebelum usia 12 bulan, bayi tidak akan bisa melakukan pengontrolan terhadap buang airnya. Meskipun ada anak pada usia ini yang menunjukkan tanda-tanda kesiapan namun tetap saja belum siap secara fisik.  Seringkali si kecil yang terlihat bisa menjaga ritme buang airnya di siang hari tetap saja kesulitan untuk melakukannya di malam hari. Bahkan banyak anak yang masih mengompol hingga usia 5 tahun.


Kita tidak perlu untuk menunggu hingga sampai kita bisa memeriksa semua item untuk memulai pelatihan buang air. Pastikan saja tanda kemandirian dan juga pengertian yang dimiliki bayi seperti apa artinya pergi ke kamar mandi dan juga tumbuh dewasa. Yang paling penting adalah mengetahui bahwa si kecil siap untuk memulai pelatihan ini. Untuk itu kita bisa memperhatikan beberapa hal berikut untuk mengetahui kesiapan si kecil:


  1. Tanda-tanda fisik

Tanda-tanda ini adalah beragam tanda yang berhubungan dengan kondisi fisik bayi seperti bisa berjalan bahkan berlari dengan stabil. Tidak hanya itu, tanda kesiapan dimulainya pelatihan buang air adalah mengeluarkan air kencing dalam jumlah yang cukup pada satu waktu. Memiliki ritme buang air besar yang bisa diprediksi juga penting selain si kecil bisa tetap kering selama waktu tidur siangnya setidaknya selama dua jam. Pada kenyataannya, otot bayi harus dalam keadaan siap sebelum memulai pelatihan buang air. Biasanya otot-otot pelepasan anak akan mencapai kematangannya saat usia 12 sampai 24 bulan dengan rata-rata pencapaian kematangan pada usia 18 bulan. Pada awalnya mungkin si kecil tidak akan bisa menahan namun setidaknya dia sudah mempunyai kemampuan untuk merasakan saat perutnya penuh atau merasa ingin buang air kecil. Nantinya si kecil tidak akan lagi buang air besar di malam hari atau tidak mengompol selama beberapa jam. Pada akhirnya si kecil akan memiliki ritme buang air besarnya sendiri.


  1. Tanda-tanda berupa kesiapan perilaku

Tanda-tanda kesiapan pelatihan buang air bagi si kecil yang lainnya adalah bisa duduk diam dalam satu posisi tertentu selama 2 sampai 5 menit. Bisa melepas dan memakai celananya sendiri. Anak yang siap juga menunjukkan sikap tidak suka terhadap kondisi basah, tidak senang memakai popok yang kotor dan juga memperlihatkan ketertarikan terhadap orang lain saat seseorang berada di kamar mandi. Memberikan tanda fisik maupun verbal ketika dia merasa ingin buang air. Selain itu si kecil juga siap memulai pelatihan buang air jika sudah menunjukkan keinginan untuk mandiri dan tidak menolak untuk mempelajari penggunaan toilet.


Kenali Tanda tanda Kesiapan Bayi dalam Pelatihan Buang Air Bagian ke 1


  1. Tanda-tanda kognitif

Jika si kecil sampai pada tahapan untuk menunjukkan kesiapan secara kognitif maka dia bisa memulai pelatihan buang air. Tanda-tanda kognitif yang bisa terlihat antara lain mengerti tanda-tanda fisik yang berarti balita kecil kita harus segera pergi dan bisa memberi tahu kita sebelum terjadi atau bahkan bisa menahan hingga sudah berada di toilet. Contoh kesiapan anak agar kita bisa melatih buang air bisa dilihat dari kemampuan mereka untuk mengikuti instruksi sederhana seperti perintah ‘pergi dan mengambil mainan’. Tanda lainnya juga bisa dilihat dari pemahaman anak tentang nilai dari meletakkan berbagai hal dimana mestinya.  Bisa mengatakan saat ingin buang air juga bisa dijadikan tanda kognitif bagi anak yang sudah siap memulai pelatihan buang air. Secara umum, pelatihan ini akan membutuhkan kombinasi dari tugas fisik dan juga kognitif anak. Dengan demikian si kecil juga harus mengenali fungsi tubuhnya dan menghubungkannya dengan sensasi fisik dan respon yang benar.


Kita bisa memulai tip pelatihan buang air dengan mengenali tanda-tanda dimana si kecil merasa ingin buang air lalu mengajaknya ke toilet, melepas pakaian dalamnya dan kemudian mengajarinya buang air. Pelan-pelan ajari si kecil melakukannya hingga selesai dengan selalu mengingat bahwa hal ini mungkin terkesan mudah bagi kita namun membutuhkan ingatan dan juga konsentrasi bagi si kecil. Saat kita memulai proses pelatihan ini maka anak harus sudah bisa memahami penjelasan, perintah dan juga respon kita. Dengan demikian, anak akan bisa menyatukannya untuk mengerti secara tepat mengenai keseluruhan proses pelatihan buang air. Saat kita melihat seluruh proses ini secara mendetail pada seluruh tingkatan maka kita akan bisa melihat mengapa si kecil harus memiliki kemampuan verbal dan kognitif untuk bisa mencapai keberhasilan dalam pembelajaran ini.


Semua diawali dengan kesadaran tubuh dan juga kemampuan untuk menghubungkan rasa penuh dalam artian ingin buang air besar ataupun kecil. Proses menghubungkan ini tidak bisa dibuat secara otomatis. Kita harus mengajari si kecil dengan menjelaskan apa yang terjadi. Pada usia sekitar 2 tahun, anak menjadi waspada terhadap bagian-bagian tubuhnya dan menjadi tugas kita sebagai orang tua untuk mengajarkan kata-kata tentang bagian tubuhnya. Dalam proses pelatihan buang air ini akan lebih baik jika kita menggunakan kata-kata yang nyaman bagi kita dan juga keluarga. Langkah selanjutnya adalah meminta anak untuk memiliki kapasitas untuk menyimbolkan pemikiran, rencana, pemecahan masalah dan juga ingatan. Anak harus diajarkan pentingnya untuk buang air di tempatnya. Pelatihan buang air juga penting agar mereka mengerti bagaimana cara untuk melakukan buang air di toilet dengan melepaskan celana latihan dan buang air. Anak juga harus mengerti bahwa dia harus menghentikan semua kegiatannya saat merasa ingin buang air, segera mencari toilet dan buang air sendiri.


By Desi Purbi.


Follow us at:
http://www.facebook.com/Adorababyshop
http://www.twitter.com/Adorababyshop



Kenali Tanda-tanda Kesiapan Bayi dalam Pelatihan Buang Air Bagian ke 1